Persebaran Pabrik Gula untuk Pemerataan Komoditas Gula

           Pasokan gula di Pontianak Kalimantan Barat mengalami penipisan pada Juli tahun kemarin. Jumlah gula yang sedikit di pasaran mengakibatkan harga gula meningkat hingga Rp 9.325,- tiap kilogramnya. Pemerintah daerah tidak bisa mendorong produktivitas gula karena daerah ini merupakan daerah konsumen gula tanpa ada kegiatan produksi gula. Salah satu jalan yang dapat ditempuh ialah impor gula. Kompas (2012) menyebutkan bahwa Menteri Perdagangan memberikan izin impor gula sebesar 17500 ton untuk menanggulangi masalah tersebut. Jika dipandang dari segi kecepatan usaha dalam mengimbangi kegiatan jual beli dalam negeri, keputusan yang diambil merupakan keputusan paling tepat. Namun belum menjadi solusi yang tepat untuk menanggulangi permasalahan produksi dan distribusi gula. Selain itu, keputusan impor gula juga perlu dikaji kembali karena bertentangan dengan aturan impor gula, sebagai contoh kasus impor gula kristal putih sebanyak 220.000 ton yang menyalahi aturan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527/2004 tentang ketentuan impor gula.

            Aktivitas impor gula selalu menjadi sorotan bagi petani tebu. Tidak sedikit petani tebu dan masyarakat umum mengecam aktivitas impor gula. Salah satu pertimbangannya ialah Indonesia dianugerahi dengan alam tropis yang subur, tidak seperti daerah Afrika yang tandus. Kondisi iklim tropis merupakan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan tebu sebagai bahan mentah dalam produksi gula. Akan tetapi, kegiatan impor masih tetap bergaung-gaung. Masyarakat umum banyak yang beranggapan impor gula membuat petani tebu merugi. Hal ini tidak selalu benar, khususnya dalam kondisi pemerintah harus memenuhi kebutuhan gula di suatu wilayah yang tidak memproduksi gula atau tidak ada petani yang menanam tebu. Distribusi gula dari wilayah produksi ke wilayah nonproduksi gula jarang ditempuh pemerintah jika medan yang harus dilalui terlampau jauh. Selain biaya transportasinya, aspek risiko juga membayang-bayangi pengiriman gula. Pemerintah harus memandang permasalahan ini dengan serius walaupun membutuhkan waktu untuk membenahi yang cukup panjang.

Pemerataan pabrik gula
             Pabrik gula yang dimiliki Indonesia pada tahun 2012 sebanyak 66 pabrik gula yang tersebar di Jawa (91%), Sumatera (6%), dan Sulawesi (3%). Persentase jumlah pabrik gula yang berbeda menunjukkan bahwa pabrik gula tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia, padahal semua warga Indonesia di seluruh penjuru membutuhkan gula dalam kesehariannya. Ketidakseimbangan ini yang selalu menjadi masalah khas Indonsia. Pemerintah menanggulanginya dengan mendistribusikan gula dari wilayah produksi ke wilayah konsumsi. Namun hal ini harus dijadikan sebagai solusi jangka pendek. Artinya solusi tersebut tidak dapat dijadikan solusi secara terus menerus ketika Indonesia mengalami kekurangan pemerataan gula, harus ada solusi berkelanjutan yang dapat menutupi permasalahan di atas untuk seterusnya.
              Pemerintah menargetkan revitalisasi mesin pabrik gula (PG) sebanyak 12 PG pada tahun 2012 kemarin. Revitalisasi ini bertujuan agar tingkat rendemen tebu meningkat dari yang biasanya 7-8% bahkan hingga 14%, karena angka ini merupakan rendemen tertinggi dari pernah dicapai. Langkah ini merupakan langkah kongkrit pemerintah dalam menunjang produktivitas gula nasional dalam ranah off-farm. Revitalisasi lebih mudah diwujudkan pemerintah dibandingkan dengan membangun pabrik gula baru. Harapannya, ini merupakan langkah awal pemerintah dalam memfokuskan peningkatan produksi gula nasional.
              Pembangunan pabrik gula yang merata akan memberikan dampak positif yang sangat berarti untuk kemajuan produksi gula mendatang. Pertama, keberadaan pabrik gula akan memperbesar peluang usaha tani tebu dalam menjual hasil panennya, bahkan mendorong petani untuk menanam tebu. Kebanyakan petani tebu berada di wilayah yang memiliki pabrik gula atau pabrik penggilingan tebu, karena petani tidak mau dirugikan dalam penjualan tebu yang siap giling. Kedua, pemerintah dapat mengurangi pengeluaran dalam pendistribusian gula dari wilayah produksi ke wilayah konsumsi. Ketiga, Harga gula dapat dikontrol oleh pemerintah dengan baik, dengan didukungknya pasokan gula di wilayah tersebut.

Perluasan penanaman tebu
              Proses produksi pabrik gula akan berjalan lancar apabila didukung dengan pasokan bahan baku siap giling yang memadai. Persebaran pabrik gula juga harus didukung dengan persebaran produksi tebu. Cara terbaik ialah mengalihkan petani non-tebu menjadi petani tebu di daerah pembangunan pabrik tebu. Namun tidak semua petani bersedia untuk itu, walaupun ada jaminan dari pemerintah atau pihak Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN). Petani memiliki pemikiran realistis bahwa menanam itu tidak hanya merawat tanaman dan panen, namun juga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, menanam merupakan kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan hama tanaman.
              PTPN perlu membentuk subbagian yang menangani penyuluhan petani tebu. Subbagian ini tidak sama dengan penyuluhan pertanian secara umum, karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Penyuluhan ini juga bertujuan untuk mendorong petani agar mau beralih untuk menanam tebu serta mendampingi petani dalam perawatan dan penjualan tebu. Penyuluh dapat menggunakan hasil model simulasi tanaman tebu untuk meyakinkan para petani. Selain itu, pendampingan petani tebu murni dibutuhkan karena tidak semua petani atau kelompok tani memahami proses pertumbuhan dan perkembangan tebu, khususnya pencegahan dan penanggulangan terhadap penyakit tebu. Tebu ditanam petani dan dipanen hingga 11 bulan setelahnya, sehingga petani hanya bisa menanami kebun tebu dengan sekali panen. Hasil dari penjualan tebu harus bisa mencukupi keluarga petani selama satu tahun dan untuk menanam tebu di waktu tanam berikutnya. Oleh karena itu, petani harus selalu didampingi oleh penyuluh pertanian tebu.
              Ada petani tebu yang tidak mempercayai kinerja pabrik penggilingan tebu yang diduga mempermainkan rendemen. Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara), Dahlan Iskan menyatakan bahwa kepercayaan petani terhadap pabrik gula harus terus dipupuk dan ditingkatkan karena merupakan sumber pasokan tebu (Detik Surabaya 2012). Oleh karena itu, kelompok petani tebu sangat perlu dibentuk. Kelompok tani ini akan membantu penyuluh dalam mendampingi setiap petani tebu baik dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tebu maupun dalam menjual hasil panen. Informasi mengenai prediksi awal musim (onset), penyebaran hama tebu, maupun peringatan dini pertanian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat dapat disampaikan oleh penyuluh dan kemudian diperjelas dalam forum kelompok tani tersebut. Hal ini akan sangat membantu pihak BMKG dalam diseminasi informasi iklim yang menjadi salah satu tugas pokok BMKG. Kelompok tani dapat mengakumulasi hasil tebu dalam satu kelompok tani dan memusyawarahkan dalam penentuan harga jual tebu tiap ton bersaa dengan pihak pabrik giling. Kesepakatan yang didapatkan akan lebih mempererat hubungan antara petani dan pihak pabrik giling tebu, sehingga diharapkan pasokan hasil panen tebu untuk produksi gula dapat terus terjadi kontinu tanpa ada pihak yang dirugikan.
               Salah satu hal yang dapat membuat petani yakin dan mau melaksanakan proyek ini ialah dengan menggunakan model simulasi pertanian. Model yang diperkenalkan oleh Handoko (1994) ini telah dikembangkan khusus untuk tanaman tebu oleh Wawan Pembengo dan Suwarto (2012). Model ini mengombinasikan faktor meteorologi, kadar air tanah, serta proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Model ini dapat menghasilkan biomassa batang sebagai prediksi produktivitas tebu. Sebesar 85% dari hasil prediksi model merupakan produktivitas tebu sebenarnya (Pembengo dan Suwarto 2012). Ini menunjukkan bahwa model simulasi ini berjalan dengan sangat baik.
               Input yang dibutuhkan model ini ialah data meteorologi (suhu udara, kelembaban udara, radiasi surya, curah hujan, dan kecepatan angin) dan data kondisi tanah (kadar air tanah, indeks luas daun, dan titik layu permanen) . Data ini tidak sulit didapatkan untuk kepentingan pertanian. Data meteorologi dapat diperoleh dari stasiun meteorologi setempat atau dari kantor Badan Penyuluh Pertanian (BPP) yang memilikinya, sedangkan data kondisi tanah dapat diperoleh dari kondisi lahan pertanian. Data meteorologi ini dapat mewakili suatu wilayah tertentu saja, karena setiap tempat memiliki ciri meteorologi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, model simulasi ini perlu dijalankan di setiap wilayah yang dinilai berpotensi untuk perluasan penanaman tebu. Tempat yang direkomenasikan untuk perluasan lahan tebu ialah tempat yang menghasilkan biomassa batang terbesar berdasarkan model. Harapannya dengan menggunakan model simulasi ini pemerintah dapat bekerja lebih efektif dan efisien, tanpa harus melakukan percobaan penanaman tebu di beberapa wilayah tersebut yang dinilai akan membutuhkan waktu, dana, serta sumber daya manusia yang lebih besar.

Referensi

Detik Surabaya. 2012. Dahlan puji keberhasilan revitalisasi pabrik gula Toelangan. Terhubung berkala. http://surabaya.detik.com/read/2012/10/14/142350/2062140/1066/dahlan-puji-keberhasilan-revitalisasi-pabrik-gula-toelangan (30 Januari 2013)

Handoko. 1994. Dasar penyusunan dan aplikasi model simulasi computer untuk pertanian. Bogor: Departemen Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor.

Kompas. 2012. Petani tebu kecam impor gula putih. Terhubung berkala. http://regional.kompas.com/read/2012/08/01/02393079/Petani.Tebu.Kecam.Impor.Gula.Putih. [Diakses 26 Desember 2012].

Pembengo, W dan Suwarto. 2012. Model simulasi pertumbuhan dan produksi tanaman tebu. JATT Vol. 1 No. 1: 33-45
Persebaran Pabrik Gula untuk Pemerataan Komoditas Gula Persebaran Pabrik Gula untuk Pemerataan Komoditas Gula Reviewed by Eko Suryanto on 07.49.00 Rating: 5

Tidak ada komentar

Travel everywhere!